— Halaman 1 —

Pagi itu, Bayu terbangun di sebuah gubuk kecil yang sederhana. Cahaya matahari perlahan masuk melalui celah dinding kayu. Ia bangkit, merapikan tempat tidurnya, lalu membuka pintu gubuk. Begitu melangkah keluar, panas matahari langsung menyambutnya. Bayu mengusap keringat di dahinya dan memandang jauh ke arah jalan yang masih sepi. Hari baru telah dimulai, dan Bayu tahu ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
— Halaman 2 —

Di luar gubuk, Bayu terkejut melihat Bimantara telah menunggunya. Rusa bersayap cahaya itu berdiri di bawah pohon, tubuhnya memancarkan sinar lembut yang berkilauan diterpa matahari pagi. Bimantara menatap Bayu, lalu mengibaskan sayapnya perlahan. Bayu mendekat dengan penuh rasa penasaran. Ia merasa, kedatangan Bimantara pagi itu bukanlah sebuah kebetulan.
— Halaman 3 —

Bayu terdiam ketika Bimantara tiba-tiba mengeluarkan suara. Suaranya terdengar lembut, tetapi penuh keyakinan.
Bimantara: "Hari ini, kau harus ikut aku."
Bayu: (mata terbelalak) "Kita mau pergi ke mana?"
— Halaman 4 —

Bimantara mengepakkan sayap cahayanya dan membawa Bayu terbang menuju puncak gunung. Semakin tinggi mereka terbang, kabut tebal perlahan terbuka. Bayu terpaku melihat pemandangan di hadapannya. Di balik pegunungan tersembunyi sebuah dunia mistis yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Hutan bercahaya, sungai berkilauan, dan makhluk-makhluk ajaib hidup dengan damai. Bayu sadar, perjalanan mereka baru saja dimulai.
— Halaman 5 —

Setelah melewati dunia mistis, Bimantara membawa Bayu menuju sebuah gua besar di balik air terjun. Mulut gua itu dipenuhi batu-batu bercahaya dengan ukiran aneh di dindingnya. Bayu berhenti sejenak, merasa ragu untuk masuk. Namun Bimantara terus berjalan ke dalam. Dengan hati berdebar, Bayu mengikuti langkahnya. Semakin jauh mereka masuk, cahaya dari luar perlahan menghilang, digantikan sinar biru misterius dari dalam gua.
— Halaman 6 —

Semakin dalam Bayu melangkah, cahaya biru semakin terang. Di ujung gua, ia menemukan sebuah prasasti kuno berdiri di atas batu besar. Ukiran aneh di permukaannya tiba-tiba menyala ketika Bayu mendekat. Bimantara berhenti dan menatap prasasti itu dengan serius.
Bimantara: "Sudah waktunya."
Bayu menyentuh permukaan prasasti. Seketika, seluruh gua bergetar dan sebuah suara misterius terdengar dari dalam kegelapan.
"Putra yang terpilih... akhirnya kau datang."
Bayu terkejut. Siapa yang memanggilnya?
— BERSAMBUNG —
Chapter 2: "Putra yang Terpilih"
Chapter 1: TAMAT
Karakter: Bayu, Bimantara
Karakter: Bayu, Bimantara
