KABAMINANG.com – Beijing. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 14–15 Mei 2026. Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan bilateral, khususnya di bidang perdagangan, setelah tercapainya kesepakatan awal dengan Presiden China Xi Jinping.
Kesepakatan tersebut merupakan kelanjutan dari pertemuan kedua pemimpin pada Oktober 2025 di sela KTT APEC di Busan, yang berhasil meredakan ketegangan perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia itu.
Dalam kesepakatan terbaru, Amerika Serikat sepakat menurunkan tarif impor terhadap sejumlah produk China dari rata-rata 57 persen menjadi 47 persen. Termasuk di dalamnya penurunan tarif untuk prekursor fentanyl dari 20 persen menjadi 10 persen, sebagai bagian dari kerja sama dalam memerangi peredaran narkotika ilegal.
Sebagai imbalannya, China berkomitmen untuk meningkatkan pembelian produk pertanian Amerika Serikat, khususnya kedelai, guna mendukung sektor pertanian AS. Selain itu, Beijing juga akan menangguhkan pembatasan ekspor logam tanah jarang (rare earth) selama minimal satu tahun.
Kesepakatan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menghindari eskalasi konflik dagang, termasuk ancaman tarif balasan hingga 100 persen dari pihak Amerika Serikat.
Tak hanya itu, kedua negara juga sepakat menjaga kelancaran ekspor teknologi, termasuk chip semikonduktor dari perusahaan seperti Nvidia, yang sebelumnya menjadi isu sensitif dalam hubungan dagang.
Presiden Trump menyambut baik kesepakatan ini dan menyebutnya sebagai langkah besar dalam membuka akses pasar China bagi produk Amerika.
“Ini adalah keberhasilan luar biasa. Kami membuka peluang besar bagi petani, energi, dan industri Amerika untuk masuk ke pasar China,” ujar Trump.
Read More:
- 1 Chelsea Mulai Berburu Pengganti Enzo Fernandez, Elliot Anderson Jadi Prioritas Utama
- 2 Rapat Koordinasi Persiapan Pemberangkatan Jamaah Haji 2026, Kemenag Kabupaten Solok Matangkan Kesiapan Layani 196 Jamaah
- 3 Pengendara Motor Terjatuh ke Jurang di Sitinjau Lauik, Korban Dievakuasi ke RS Semen Padang
Sementara itu, pemerintah China menegaskan bahwa diplomasi tingkat kepala negara tetap menjadi kunci dalam menjaga stabilitas hubungan bilateral, meskipun sempat terjadi penundaan kunjungan akibat dinamika geopolitik global.
Sebelumnya, perundingan lanjutan juga telah dilakukan di Paris pada Maret 2026 yang melibatkan Menteri Keuangan AS dan pejabat tinggi China. Pertemuan tersebut menghasilkan kerangka kerja untuk mengelola tarif dan menjaga keseimbangan perdagangan di tengah surplus perdagangan China yang mencapai lebih dari US$1,2 triliun pada 2025.
Trump juga dikabarkan telah mengundang Xi Jinping untuk melakukan kunjungan balasan ke Amerika Serikat pada akhir 2026, sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama jangka panjang.
Para analis menilai kunjungan Mei mendatang akan menjadi penentu dalam implementasi kesepakatan yang telah dicapai, termasuk mekanisme pengawasan dan perluasan ekspor kedua negara.
Meski belum ada hasil final dari kunjungan tersebut, optimisme pasar mulai terlihat dengan stabilnya kebijakan tarif serta meningkatnya kepercayaan pelaku ekonomi global terhadap hubungan dagang AS-China ke depan.
“KBM”







