WARISAN MERAH PUTIH
Chapter 1 — Bendera yang Tak Pernah Pudar
— Komik Kemerdekaan RI ke-81 —
— 1 —
Pagi di Desa Sukamaju. Angin Agustus berhembus pelan, membawa bau tanah dan aroma kue persiapan lomba.
Bima: (menunjuk tiang bendera) "Kek, kenapa bendera Kakek sudah pudar begini? Kenapa nggak beli yang baru saja?"
Kakek: (tersenyum, mengusap bendera tua itu pelan) "Karena yang pudar cuma kainnya, Bima. Warnanya... tidak pernah."
— 2 —
Kakek: (menatap jauh ke langit) "Tahun 1945, Kakek dan kawan-kawan membawa bendera seperti ini menghadapi senapan. Banyak yang tidak pulang... tapi benderanya tetap berkibar."
Bima: (dalam hati) "Jadi merah itu bukan sekadar warna... dan putih bukan sekadar kain."
— 3 —
Malam itu, Bima tidak bisa tidur. Ia mengambil kain merah dan putih dari lemari Ibu, lalu menjahit dengan tangan yang gemetar.
Bima: (berbisik) "Kakek menjaga bendera lama... biar aku yang jahit yang baru."
— 4 —
17 Agustus. Lapangan desa dipenuhi lagu, tawa, dan bau kacang rebus.
Bima: (menyerahkan bendera jahitannya, malu-malu) "Untuk Kakek. Biar yang lama jadi cerita... yang baru jadi janji."
Kakek: (memeluk Bima, suara bergetar) "Merdeka, Nak. Sekarang... giliranmu menjaganya."
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka bukan hanya dikenang — tapi dijaga. Bersama-sama.
— TAMAT —
