— 1 —

Desa Sukamaju. Tempat di mana hidup masih sederhana, dan senyum masih mudah ditemukan.
Raka: (melukis di tanah) "Hari ini langitnya bersih. Semoga panennya juga bersih dari masalah..."
Ibu: (dari kejauhan) "Raka! Ayo bantu ibu angkat air, nak!"
— 2 —

Sang Utusan: "Titah Sang Adipati! Mulai bulan ini, setiap keluarga wajib menyerahkan tiga pikul hasil panen, dua ekor ayam, dan lima keping uang tembaga!"
Ibu-ibu: (berbisik) "Ya Tuhan... itu hampir setengah dari apa yang kami punya..."
Raka: (dari balik tiang, dalam hati) "Kenapa mereka yang makan enak, justru kami yang harus memberi lebih?"
— 3 —

Malam itu, obor terasa lebih redup dari biasanya. Dan obrolan makan malam, terasa lebih sunyi.
Ayah: (bergumam) "Kalau begini... kita takkan punya cukup untuk makan sampai panen berikutnya."
Ibu: (sambil menangis pelan) "Apa salah kami, sampai anak kita harus menanggung ini..."
Raka: (dalam hati, memeluk ibunya) "Aku tak ingin diam saja. Tapi apa yang bisa dilakukan seorang anak?"
— 4 —

Raka: (berbisik, menulis di daun) "Kita tak perlu memberontak dengan pedang... cukup dengan satu suara yang tak bisa dibungkam."
Pemuda: "Apa maksudmu, Raka?"
Raka: "Surat. Satu surat untuk setiap desa tetangga. Kalau kita bicara bersama, Sang Adipati akan mendengar."
Di ujung malam itu, di rumah kecil Desa Sukamaju, sebuah rencana mulai tumbuh — pelan, sunyi, tapi tak bisa dibatalkan.
