POJOK OPINI

Hidup dalam Keberagaman, Potret Interaksi Multibudaya di Asrama Mahasiswa Universitas Andalas

×

Hidup dalam Keberagaman, Potret Interaksi Multibudaya di Asrama Mahasiswa Universitas Andalas

Sebarkan artikel ini
Gedung Asrama Mahasiswa Universitas Andalas terlihat dari area luar dengan kondisi bangunan yang berdiri di area bertingkat.

Oleh:
D. Z. Amin, M. G. Adliand, F. Gautama,
H. Z. Inayah, M. K. Pulungan,
H. Z. Salsabila, S. H. T. Meizar,
M. W. Ikram, dan Y. M. Ichsan

KABAMINANG.com – Padang, Asrama mahasiswa sering kali menjadi ruang pertama bagi anak muda untuk berhadapan langsung dengan keberagaman yang nyata. Di tempat seperti inilah mahasiswa belajar memahami perbedaan, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dan membangun relasi sosial yang tidak lagi berbasis kesamaan daerah atau agama.

Asrama Universitas Andalas menjadi contoh kecil mengenai bagaimana keragaman budaya dan keyakinan hadir berdampingan dalam kehidupan sehari-hari para penghuninya. Keberagaman itu bukan hanya latar belakang sosial semata, tetapi juga menjadi proses pembelajaran hidup.

Bagi sebagian mahasiswa, keberagaman tersebut terasa wajar dan tidak menimbulkan persoalan berarti. Farhan, salah satu penghuni asrama Universitas Andalas, menilai bahwa perbedaan agama dan daerah tidak menjadi sumber konflik.

Menurutnya, interaksi berjalan alami, saling menghargai, dan jarang ada ucapan atau sikap yang menyinggung. Ia bahkan tidak pernah melihat adanya kelompok atau klik yang menutup diri.

“Kami bergaul aja seperti biasa. Tidak pernah ada masalah gara-gara beda agama,” ujarnya.

Pandangan yang sama datang dari pihak keamanan asrama. Satpam yang bertugas setiap hari mengamati pola interaksi mahasiswa dan menegaskan bahwa tidak ada konflik berarti yang disebabkan oleh perbedaan budaya. Justru menurutnya, mahasiswa zaman sekarang cenderung terbuka dan mudah akrab dengan siapa pun.

Namun, tidak semua penghuni memaknai keberagaman dengan cara yang sama. Beberapa mahasiswa memiliki pengalaman berbeda, salah satunya adalah Mahasiswi yang berasal dari Sumatera utara, Lasmarya. Lasmarya mengakui bahwa klik atau kelompok kecil memang sering terlihat.

Menurutnya, kecenderungan berkumpul berdasarkan kesamaan budaya atau minat adalah hal yang lumrah. Lingkungan yang heterogen membuat beberapa mahasiswa lebih nyaman mendekat pada orang yang memiliki latar serupa. Meski begitu, ia menekankan pentingnya sikap saling menghormati dan saling membantu sebagai cara menjaga kerukunan.

Pengalaman Lasmarya juga menunjukkan bahwa perbedaan dapat menimbulkan ketegangan, misalnya ketika sebagian mahasiswa merasa dibedakan berdasarkan agama. Konflik semacam ini tidak besar, namun cukup menggambarkan bahwa keberagaman memerlukan kesadaran kolektif untuk menjaga harmoni.

Perspektif yang lebih menyeluruh datang dari fasilitator asrama, yang sehari-hari mengelola dinamika antar-mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa kelompok minoritas, terutama mahasiswa non-muslim, kerap menghadapi tantangan emosional karena jumlah mereka yang lebih sedikit.

Penempatan mereka di salah satu Gedung Asrama Universitas Andalas bukan bentuk pengkotak-kotakan, tetapi upaya agar mereka tidak merasa sendirian di tengah mayoritas. Meski demikian, fasilitator tidak menutup mata terhadap potensi konflik kecil. Salah satunya terjadi saat sebagian mahasiswa non-muslim merasa terganggu oleh program pemutaran murotal pagi.

Setelah dijelaskan bahwa murotal berfungsi membangunkan mahasiswa Muslim untuk salat Subuh dan kegiatan pagi, kesalahpahaman pun mereda. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana komunikasi yang terbuka bisa menjadi kunci penyelesaian.

Pihak asrama juga berusaha menjaga keseimbangan lewat berbagai kebijakan. Mahasiswa muslim melakukan absen di masjid setiap paginya.

Sementara itu, mahasiswa non-muslim melapor kepada fasilitator saat pagi hari sebelum berangkat ke kampus. Mereka juga difasilitasi menjalankan ibadah masing-masing, dengan sistem pencatatan kegiatan rohani yang setara.

Upaya seperti ini memastikan tidak ada pihak yang merasa dianaktirikan. Kebijakan lain yang cukup efektif adalah penataan kamar, mahasiswa tidak ditempatkan bersama teman yang berasal dari daerah, SMA, atau jurusan yang sama. Dengan begitu, mahasiswa didorong untuk keluar dari zona nyaman dan belajar berinteraksi dengan orang yang berbeda latar belakang.

Selain berbagai kebijakan yang diterapkan, pihak asrama juga secara rutin melakukan evaluasi kegiatan sebagai bentuk pengawasan dan perbaikan berkelanjutan. Pada setiap periode evaluasi, mahasiswa diberi kesempatan menyampaikan pengalaman, kendala, dinamika interaksi selama tinggal di lingkungan asrama, serta saran terkait kegiatan asrama.

Melalui forum ini, pihak pengelola dapat memetakan adanya kecenderungan pembentukan klik budaya, menanggapi isu-isu sensitif terkait keberagaman, serta merumuskan langkah perbaikan yang lebih terarah. Upaya ini dilakukan agar terciptanya lingkungan yang tidak hanya tertib, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan mahasiswa.

Jika melihat keseluruhan dinamika, keberagaman di asrama ternyata hadir dalam berbagai wajah. Ada mahasiswa yang merasa semuanya baik-baik saja, ada yang melihat adanya klik budaya, dan ada juga pihak asrama yang memahami tantangan struktural di balik keberagaman itu.

Namun satu hal yang menghubungkan seluruh perspektif tersebut adalah kesadaran bahwa toleransi dan komunikasi menjadi fondasi utama dalam menciptakan harmoni. Fasilitator berharap bahwa program-program asrama mampu mempererat hubungan mahasiswa, membuat mereka saling mengenal lebih dekat, dan menumbuhkan nilai moderasi dalam keberagaman.

Pada akhirnya, hidup dalam keberagaman bukan sekadar menerima perbedaan, tetapi memahami bahwa setiap orang membawa latar yang berbeda pula. Asrama Unand menunjukkan bahwa keragaman bisa menjadi ruang belajar sosial yang penting bagi mahasiswa.

Meski tidak selalu mulus, proses ini justru memberikan pengalaman berharga bagi generasi muda, mereka belajar menyesuaikan diri, berdialog, dan menghargai perbedaan yang merupakan bekal penting untuk hidup di masyarakat yang lebih luas.

(Padang, 24 November 2025)