KABAMINANG.com – Kabupaten Solok. 21/1/2026, Silek merupakan seni bela diri tradisional masyarakat Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Sebagai bagian tak terpisahkan dari adat dan budaya, silek tidak hanya mengajarkan keterampilan fisik, tetapi juga nilai-nilai filosofi kehidupan, spiritualitas, serta kearifan lokal.
Di Minangkabau, terdapat banyak aliran silek yang berkembang di berbagai nagari, mengikuti tokoh-tokoh yang membawanya dan menetap di wilayah tertentu.
Salah satu aliran silek yang unik dan sarat makna adalah Silek Kilang Endek. Silek ini berasal dari Kenagarian Sariak Alahan Tigo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, tepatnya dari Jorong Sungai Pangalek.
Dibandingkan aliran silek lain, Silek Kilang Endek memiliki teknik, filosofi, dan pola gerak yang khas, sehingga menjadikannya berbeda dan bernilai tinggi sebagai warisan budaya Minangkabau.
Seiring semaraknya pembentukan sanggar-sanggar budaya dan upaya penggalian kembali khazanah budaya lokal di Kabupaten Solok, Silek Kilang Endek yang lama terpendam kini mulai diangkat kembali ke permukaan.
Upaya ini sejalan dengan semangat pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan budaya masa lalu agar pesona budaya dan kearifan lokal Minangkabau tidak hilang ditelan zaman.
Sejarah dan Tokoh Pengembang
Silek Kilang Endek merupakan silek pusaka kaum yang pada awalnya hanya diwariskan di lingkungan terbatas. Silek ini dikembangkan oleh Mak Rahim, yang lebih dikenal dengan sebutan Angku Silek, sebuah gelar yang melekat hingga akhir hayat beliau.
Angku Silek mempelajari ilmu ini dari mamaknya yang bernama Gando, dikenal dengan panggilan Angku Kudu, serta memperdalamnya bersama sahabatnya Angku Pak Sawang.
Pada mulanya, Silek Kilang Endek hanya dimiliki oleh kaum tertentu. Namun, atas inisiatif para pemuka kaum, silek ini kemudian berkembang secara personal dan diajarkan ke berbagai daerah sekitar. Bahkan, silek ini pernah berkembang hingga ke wilayah Surian, Muara Labuh, Sangir, dan Jambi, terutama di daerah perantauan tempat Angku Silek mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya.
Pada masanya, Silek Kilang Endek sejajar dan dihormati sebagai silek yang “tegak samo tinggi, duduak samo randah” dengan aliran silek lain seperti Silek Harimau, Silek Taralak, Silek Pangian, Silek Luncua, Silek Tuo, dan berbagai aliran lainnya yang berkembang di Sariak Alahan Tigo.
Filosofi dan Keunikan Gerak
Seperti silek Minangkabau pada umumnya, Silek Kilang Endek terinspirasi dari alam. Nama “kilang” merujuk pada alat pemeras tebu, sedangkan “endek” adalah alat tradisional penumbuk padi sebelum dikenal mesin modern. Kedua alat ini merupakan teknologi tradisional Minangkabau yang canggih pada masanya. Gerakan silek ini mengombinasikan prinsip kilang dan endek yang saling bermitra, kompak, dan serentak.
Keunikan Silek Kilang Endek terletak pada prinsip geraknya yang selalu maju dan tidak boleh mundur. Tubuh pesilat tidak berputar ke kanan atau ke kiri, dan seluruh anggota tubuh difungsikan sebagai senjata untuk bertahan menghadapi serangan lawan.
Read More:
- 1 Wakil Bupati Solok Candra Resmi Buka Open Turnamen Bupati Solok Cup I
- 2 SDIT Qur'an Anzalat Sungai Nanam melakukan kunjungan study tiru ke SDQu Arrisalah Padang
- 3 Gerak Cepat Bantu Rumah Terdampak Angin Kencang Puting Beliung, Kepala Jorong Pasa Koto dan Pemuda Sungai Nanam Antarkan Bantuan
Menariknya, silek ini tidak menekankan serangan, melainkan pertahanan diri, mencerminkan karakter nenek moyang Minangkabau yang cinta damai, tidak mencari sengketa, dan menghindari kezaliman.
Filosofi yang diajarkan dalam Silek Kilang Endek antara lain tertuang dalam petuah:
“Musuh indak dicari, sangketo indak dihadang, tapi kok datang bak langau, titiak bak hujan, ditampuang.”
Artinya, seorang pendekar tidak mencari musuh, tetapi siap menghadapi jika serangan datang.
Ilmu Fisik dan Spiritual
Murid yang benar-benar ingin mempelajari Silek Kilang Endek biasanya terlebih dahulu dibekali ilmu spiritual oleh guru.
Tujuannya adalah menyatukan kekuatan fisik dan psikis sehingga silek ini mengandung dimensi spiritual dan supranatural. Pendekar diharapkan memiliki kerendahan hati, tidak sombong, serta selalu ingat kepada Yang Maha Kuasa, sebagaimana filosofi padi: semakin berisi, semakin merunduk.
Berbeda dengan silek lain yang umumnya diawali langkah tiga atau langkah empat, Silek Kilang Endek tidak memiliki langkah, aba-aba, atau ancang-ancang. Silek ini selalu siap siaga, baik dalam keadaan duduk, berdiri, bahkan saat tidur. Hal ini menggambarkan kesiapsiagaan total seorang pendekar dalam menjaga diri dan marwahnya.
Ragam Sambut dan Kuncian
Silek Kilang Endek memiliki puluhan ragam sambut dan kuncian, di antaranya Gelek, Kilang, Endek, Rantiang, Ranjau, Kilang Sabalik, Endek Kadalam, Salendang Ateh, Kungkuang Batak, Tunggang Aia, hingga Santuang Ali dan Ali Remoh. Ragam gerak ini mencerminkan kekayaan teknik sekaligus kedalaman ilmu yang terkandung di dalamnya.
Upaya Pelestarian
Kini, Silek Kilang Endek berada di ambang kepunahan akibat terbatasnya pewaris dan keberanian murid-murid lama untuk mengajarkannya kembali. Namun, dengan adanya kesadaran kolektif dan semangat pelestarian budaya, diharapkan silek ini dapat kembali berkembang dan dikenal oleh generasi muda.
Penulisan sejarah singkat Silek Kilang Endek ini diharapkan menjadi pemantik agar anak cucu Minangkabau mencintai dan melestarikan budayanya sendiri, sehingga Minangkabau tidak hanya hidup dalam cerita, tetapi nyata dalam praktik kehidupan sehari-hari.
“Bakato siang caliak-caliak, bakato malam danga-danga. Bana kato dikatokan, kurang mintak ditukuak. Basamo mangko manjadi.”
“MB”







