ArtikelBERITA

Sungai Meluap di Kuranji Padang10 Desember 2025

×

Sungai Meluap di Kuranji Padang10 Desember 2025

Sebarkan artikel ini

Oleh: Fajar Gautama

Latar Belakang dan Kronologi Singkat

KABAMINANG.comPada Rabu, 10 Desember 2025, kawasan Kuranji kembali diguyur hujan deras sejak pagi hari. Hujan yang sangat lebat ini menyebabkan sungai-sungai yang ada di Padang termasuk Batang Kuranji mengalami kenaikan debit air secara signifikan. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa ini memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas warga sekitar, infrastruktur lingkungan, dan sebagai pengingat bahwa ancaman bencana hidrometerologi di Padang masih belum selesai.

Peristiwa yang terjadi  dengan meluapnya sungai di Kuranji kali ini bisa dianggap sebagai salah satu kejadian yang menegangkan sepanjang tahun 2025 ini. Hal itu bukan hanya karena tinggi intesitas hujan, tetapi karena kondisi wilayah yang memang sering terjadi kejadian banjir. Kombinasi antara faktor alam dan faktor manusia yang membuat luapan sungai di Kuranji terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan oleh warga.

Kronologi Kejadian

Sejak pukul lima pagi, hujan dengan intesintas  tinggi mengguyur di daerah-daerah yang ada di Kota Padang. Pada awalnya, warga sekitar Kuranji menganggap hujan tersebut hanya kayak hujan biasa pada musim penghujan. Namun, pada pukul delapan, intensitas hujan meningkat drastis hingga meluapnya sungai di Kuranji. Air yang mengalir dari hulu Sungai Batang Kuranji membawa serta material seperti ranting, lumpur, bahkan batu-batu kecil, menandakan bahwa di bagian hulu terjadi tekanan air yang cukup kuat.
Sekitar pukul sepuluh pagi, warga di beberapa titik seperti sepanjang Jalan Andalas Barat, komplek perumahan di sekitar Sungai Sapih, serta kawasan Pasar Kuranji mulai melihat kenaikan permukaan air di bantaran sungai. Arus sungai yang biasanya tenang berubah menjadi keruh dan deras. Dalam kurun waktu kurang dari satu jam, air meluap hingga ke jalan dan halaman rumah warga.

Banyak warga secara sigap untuk mengamankan barang-barang penting ke tempat yang aman. Warga yang tinggal di tepi sungai segera bergegas keluar menuju area yang lebih aman. Sementara itu, aparat kelurahan, relawan bencana, dan anggota BPBD yang sudah dapat informasi dari warga sekitar segera bergerak langsung ke lokasi untuk memberi himbauan dan memastikan tidak ada warga yang terjebak.

Faktor dan Penyebab Meluap Sungai Kuranji

Fenomena meluapnya sungai pada 10 Desember 2025 tidak dapat dilepaskan dari beberapa faktor yang saling terkait. Berikut adalah penyebab utama yang dapat diidentifikasi:

1. Curah hujan ekstrem
Musim penghujan tahun 2025 ditandai dengan meningkatnya intensitas hujan di wilayah Sumatra Barat. Dalam beberapa hari sebelumnya, hujan terus mengguyur wilayah ini sehingga tanah di kawasan hulu Kuranji sudah dalam kondisi jenuh air. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, tanah tidak lagi mampu menyerap air sehingga keseluruhan limpasan mengarah langsung ke sungai.

2. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan hulu Batang Kuranji mengalami perubahan penggunaan lahan. Pembukaan lahan, pembangunan permukiman baru, serta berkurangnya pepohonan mengakibatkan sungai kehilangan daya tampung alaminya. Vegetasi yang biasa berfungsi sebagai penahan air tidak lagi bekerja optimal. Akibatnya, ketika hujan deras datang, air mengalir lebih cepat ke hilir membawa sedimen dan material dari hulu.

3. Penyempitan bantaran sungai
Sebagian warga membangun hunian dan bangunan semi permanen di sempadan sungai. Pengecilan dimensi sungai membuat kapasitas aliran tidak lagi sesuai dengan volume air yang melintas saat hujan lebat. Ketika debit meningkat secara mendadak, air otomatis meluap ke permukiman.

4. Sistem drainase yang belum optimal
Drainase di beberapa titik Kuranji masih mengandalkan saluran lama yang kecil. Saat hujan deras, air dari jalan dan permukiman mengalir menuju sungai, mempercepat proses kenaikan debit. Ketika sungai meluap, air dari drainase tidak dapat keluar ke hilir sehingga justru kembali membanjiri wilayah penduduk.

5. Intensitas curah hujan regional
Selain kondisi lokal, wilayah sekitar seperti Lubuk Kilangan dan Pauh juga mengalami hujan deras pada waktu yang sama. Sungai kecil yang mengalir ke Batang Kuranji turut menambah volume air sehingga kejadian ini menjadi tidak terhindarkan.

Dampak terhadap Masyarakat Kuranji
Walaupun luapan sungai pada 10 Desember 2025 tidak memakan korban, dampaknya tetap cukup luas bagi warga Kuranji.

1. Gangguan aktivitas harian
Banyak warga tidak dapat pergi bekerja atau membuka usaha karena akses jalan terendam. Jalan di sekitar Pasar Kuranji sempat lumpuh selama beberapa jam karena tertutup air bercampur lumpur.

2. Kerusakan ringan pada rumah dan fasilitas umum
Beberapa rumah warga mengalami kerusakan ringan seperti lantai yang terkelupas, dinding basah, serta perabotan yang rusak akibat terendam. Fasilitas umum seperti jalan lingkungan dan jembatan kecil di beberapa RT juga mengalami erosi di pinggiran.

3. Gangguan kesehatan lingkungan
Air yang meluap membawa lumpur, sampah rumah tangga, serta material lain dari hulu. Kondisi ini berpotensi memicu penyakit berbasis air seperti diare, leptospirosis, dan infeksi kulit jika tidak segera dibersihkan.

4. Trauma psikologis warga
Sebagian warga mengaku kembali mengingat kejadian banjir bandang beberapa bulan sebelumnya. Luapan air yang terjadi secara tiba-tiba membuat mereka kembali merasakan kecemasan tinggi terutama ketika hujan turun di malam hari.

Penanganan dan Respons dari Pemerintah
Berbagai pihak pemerintah langsung bergerak cepat dalam menangani situasi ini. BPBD Kota Padang telah melakukan patroli di sungai, evakuasi, serta mengarahkan para warga agar menjauh dari bantaran sungai. Pemerintah kecamatan Kuranji bersama kelurahan telah menyediakan  pos siaga untuk menampung warga yang membutuhkan tempat sementara. 
Pemerintah kota telah menurunkan alat berat untuk membersihkan material yang menumpuk di bagian hilir sungai. Pembersihan sedimen dan batang pohon yang tersangkut di bawah jembatan menjadi prioritas awal karena dapat menghambat aliran dan memperburuk kondisi.
Selain itu, dinas terkait melakukan pengecekan terhadap titik-titik rawan longsor di wilayah hulu. Koordinasi dengan masyarakat dilakukan secara intensif, terutama melalui sistem peringatan dini berbasis kelompok sadar bencana.

Keterkaitan Peristiwa Sungai Meluap di Kuranji dengan Nilai-Nilai Pancasila

Peristiwa luapan Sungai Batang Kuranji pada 10 Desember 2025 tidak hanya menghadirkan persoalan fisik, sosial, dan lingkungan, tetapi juga memberikan ruang refleksi mengenai bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan dalam situasi bencana.

Lima sila dalam Pancasila bukan sekadar prinsip kenegaraan, melainkan panduan moral dan etika yang sangat relevan ketika masyarakat menghadapi ujian seperti bencana hidrometeorologi yang terjadi di Kota Padang.

Berikut keterkaitan peristiwa tersebut dengan setiap sila Pancasila.

1. Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa
Nilai utama dari sila pertama adalah kesadaran spiritual bahwa manusia bergantung kepada Tuhan dan harus menjaga ciptaan-Nya, termasuk alam dan lingkungan.    Warga yang terdampak menunjukkan sikap ketabahan dan keimanan saat menghadapi situasi sulit. Banyak yang mengungsi dengan tetap bersyukur karena tidak ada korban jiwa. Bencana ini mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Kerusakan alam, penebangan, dan penyempitan bantaran sungai mengakibatkan hilangnya harmoni dengan ciptaan Tuhan. Saat bencana, doa bersama dan solidaritas spiritual muncul, memperkuat hubungan masyarakat dengan nilai ketuhanan dan saling menguatkan. Sila ini menuntun masyarakat untuk memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab moral terhadap Tuhan.

Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila kedua menekankan perlakuan manusiawi, solidaritas, empati, dan penghargaan terhadap martabat setiap orang. Warga saling membantu mengevakuasi lansia, anak-anak, dan orang sakit. Sikap ini mencerminkan kepedulian dan empati.

Relawan dan BPBD memberikan bantuan tanpa memandang latar belakang warga, menunjukkan keadilan dan nilai kemanusiaan universal. Warga membantu membersihkan rumah, jalan, serta gotong royong memulihkan lingkungan setelah air surut.

Banyak keluarga membuka pintu rumah mereka untuk menampung tetangga yang terdampak, praktik nyata dari nilai kemanusiaan beradab.Sila kedua tercermin kuat melalui semangat saling menolong tanpa pamrih.

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia
Sila ini menekankan arti penting kerja sama lintas kelompok demi menjaga persatuan. Warga dari berbagai latar belakang agama, etnis, dan pekerjaan bersatu menangani bencana, membuktikan bahwa solidaritas lebih kuat daripada perbedaan. Relawan lintas komunitas, pihak RT/RW, aparat kelurahan, hingga organisasi kepemudaan turun membantu, menunjukkan bahwa persatuan adalah kekuatan dalam menghadapi ancaman bencana.

Tidak ada konflik atau saling menyalahkan antarwarga malah sebaliknya, mereka bekerja bersama untuk mengamankan barang, memperbaiki drainase darurat, dan memantau debit sungai. Sila ketiga mengajarkan bahwa bencana bukan hanya urusan satu individu atau satu kelompok, melainkan urusan seluruh komunitas yang harus dihadapi bersama.

Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Sila ini berkaitan dengan keputusan yang adil melalui musyawarah, serta peran aktif masyarakat dalam sistem demokrasi. Pemerintah kecamatan, tokoh masyarakat, dan perwakilan warga melakukan musyawarah cepat untuk menentukan lokasi pengungsian, jalur aman, dan langkah darurat.

Warga dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, misalnya dalam penentuan titik patroli sungai dan pembagian tugas gotong royong. Masyarakat memberikan masukan kepada pemerintah mengenai titik-titik rawan yang sebelumnya belum dipetakan, mencerminkan demokrasi partisipatif.

Pemerintah menunjukkan kehati-hatian dan kebijaksanaan dalam mengimbau warga agar menjauhi bantaran sungai, sekaligus tidak membuat kepanikan yang tidak perlu. Peristiwa ini menunjukkan bahwa keputusan terbaik dalam keadaan krisis adalah keputusan yang dibangun melalui dialog dan pertimbangan bersama.

Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila kelima adalah tentang pemerataan, kesejahteraan, dan kesempatan yang adil bagi semua warga. Kesadaran masyarakat meningkat mengenai pentingnya penataan ruang yang adil, agar tidak ada kelompok yang harus tinggal di bantaran sungai hanya karena keterbatasan ekonomi. Pemerintah didorong untuk memastikan bahwa pembangunan dan perbaikan infrastruktur dilakukan secara merata, terutama di kawasan rawan bencana. Bencana ini juga membuka diskusi soal kebutuhan relokasi yang manusiawi bagi warga yang tinggal di sempadan sungai, agar tidak ada individu yang terus berada dalam kondisi berisiko.

Penyaluran bantuan dilakukan tanpa diskriminasi, memperlihatkan bagaimana nilai keadilan sosial diterapkan secara nyata. Sila kelima menyoroti perlunya kebijakan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam memastikan keselamatan dan kesejahteraan seluruh warga.

Kesimpulan
Peristiwa meluapnya sungai di Kuranji bukan hanya ujian fisik dan lingkungan, tetapi juga pengingat bahwa nilai-nilai Pancasila tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di saat krisis. Mulai dari keteguhan iman (Sila 1), sikap kemanusiaan (Sila 2), kekompakan dalam menghadapi bencana (Sila 3), musyawarah dalam menentukan keputusan penting (Sila 4), hingga perjuangan menuju keadilan sosial (Sila 5)  semuanya berkaitan dalam tindakan warga dan pemerintah.

Dengan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila, masyarakat Kuranji dan Kota Padang memiliki fondasi kuat untuk tidak hanya bangkit kembali setelah bencana, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih aman, berkelanjutan, dan berkeadilan untuk masa depan.

Penutup
Sungai meluap di Kuranji pada 10 Desember 2025 merupakan pengingat bahwa ancaman banjir di Kota Padang masih sangat nyata. Peristiwa ini tidak hanya menyoroti permasalahan lingkungan dan tata ruang, tetapi juga menunjukkan pentingnya kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga kebencanaan untuk menciptakan wilayah yang lebih aman. Dengan langkah mitigasi yang tepat, kejadian serupa dapat diminimalisir dan warga dapat hidup dengan rasa aman meskipun musim hujan tiba.