Kabaminang.com – Arosuka 2 Oktober 2026, Di tengah kepedihan yang masih menyelimuti kawasan Kompleks Kantor Bupati Solok dan sekitarnya pascabencana galodo, kepedulian datang dari berbagai penjuru. Salah satunya dari seorang putra Nagari Sungai Abu, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Fauzi Wirman, sosok pengusaha yang dikenal luas sebagai Putra Ujung Aspal.
Meski aktivitas usahanya banyak berada di DKI Jakarta, Fauzi Wirman tidak pernah melupakan kampung halaman. Ketika bencana galodo menghantam kawasan Kompleks Kantor Bupati Solok dan wilayah sekitarnya, kepeduliannya kembali diwujudkan dalam bentuk nyata.
Fauzi Wirman mengerahkan bantuan berupa 10 unit dump truck (Dantruk), satu unit loader, serta dua unit tangki. Armada tersebut dimanfaatkan untuk mendukung proses penanganan pascabencana, termasuk pengangkutan material dan membantu penyediaan serta pendistribusian air bersih bagi masyarakat terdampak maupun kawasan perkantoran di sekitar lokasi bencana.
Bagi Fauzi, bantuan tersebut bukan sekadar persoalan kendaraan dan peralatan. Di balik setiap armada yang diturunkan, ada kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.
Galodo yang menerjang kawasan Kompleks Kantor Bupati Solok meninggalkan kerusakan dan lumpur yang tidak sedikit. Aktivitas pemerintahan pun ikut terdampak. Dalam kondisi seperti itu, kehadiran peralatan berat menjadi bagian penting dalam proses pembersihan dan pemulihan.
Di tengah hiruk-pikuk alat berat dan aktivitas gotong royong, nama Fauzi Wirman kembali hadir melalui bantuan yang diberikan.
Jiwa sosial Fauzi Wirman bukan sesuatu yang baru muncul ketika bencana datang. Sosoknya dikenal memiliki kepedulian terhadap berbagai kegiatan sosial, khususnya yang berkaitan dengan kampung halaman.
Dari berbagai kegiatan di Nagari Sungai Abu hingga kegiatan sosial lainnya, Fauzi disebut selalu berupaya hadir ketika masyarakat membutuhkan. Jarak antara Jakarta dan Kabupaten Solok tidak membuat hubungan dengan kampung halaman terputus.
Sebagai seorang pengusaha yang memiliki aktivitas usaha di DKI Jakarta maupun di kampung halaman, termasuk usaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Fauzi Wirman menunjukkan bahwa keberhasilan dalam dunia usaha juga dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap sesama.
Julukan “Putra Ujung Aspal” seakan menggambarkan perjalanan seorang anak kampung yang menempuh perjalanan jauh, membangun usaha dan kehidupan di rantau, namun tetap membawa ingatan terhadap tanah kelahirannya.
Ketika kampung halaman membutuhkan, ia kembali.
Bukan dengan banyak kata, tetapi dengan menggerakkan apa yang dimilikinya.
Sepuluh Dantruk, satu loader dan dua tangki yang diturunkan ke lokasi bencana menjadi bagian kecil dari ikhtiar besar masyarakat dalam bangkit setelah galodo.
Di tengah lumpur, puing dan kelelahan, kepedulian seperti ini menjadi energi tersendiri bagi masyarakat. Sebab bagi warga yang sedang menghadapi musibah, bantuan bukan hanya dinilai dari besar kecilnya nilai materi, tetapi dari ketulusan dan kehadiran orang-orang yang memilih untuk berdiri bersama mereka.
Fauzi Wirman mungkin telah lama berada di perantauan, tetapi hatinya tetap tertinggal di kampung halaman.
Dan ketika Nagari serta daerah yang dicintainya membutuhkan uluran tangan, sosok Putra Ujung Aspal itu kembali menunjukkan bahwa sejauh apa pun langkah seorang anak Minang pergi merantau, kampung halaman tetap memiliki tempat yang istimewa di dalam hati.









