Oleh: Syaiful Rajo Bungsu
KABAMINANG.com – Tulisan Syaiful Rajo Bungsu tentang strategi pengelolaan Danau Kembar memberikan narasi yang kuat dan realistis mengenai dilema antara pelestarian alam dan pengembangan ekonomi melalui pariwisata. Di tengah pesatnya arus kunjungan wisatawan dan geliat ekonomi lokal, ada satu pesan utama yang seharusnya menjadi pegangan: Danau Kembar bukan hanya pemandangan, tetapi sistem kehidupan yang rapuh jika salah kelola.
Strategi yang ditawarkan—konservasi berbasis komunitas, zonasi wisata, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan regulasi—merupakan peta jalan penting menuju pengelolaan yang seimbang. Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada komitmen politik, konsistensi implementasi, serta keberpihakan terhadap masyarakat lokal sebagai penjaga pertama lingkungan.
Read More:
- 1 Bid Propam Polda Sumbar Lakukan Pemeriksaan dan Gaktibplin di Polres Dharmasraya
- 2 Digerebek Saat Pesta Sabu, Seorang Pengedar dan Empat Pengguna Tak Berkutik
- 3 Dharmasraya Ajukan Usulan Strategis Rp157 Miliar di Musrenbang RKPD Sumbar 2027

Mengintegrasikan konservasi dan pariwisata tidak hanya membutuhkan kebijakan yang baik di atas kertas, tetapi juga keberanian untuk menolak investasi yang tidak ramah lingkungan, serta kesediaan mendengar suara lokal. Konservasi bukan anti-pariwisata, dan pariwisata pun tak harus menjadi musuh alam. Kuncinya ada pada cara pandang: apakah kita ingin cepat untung atau ingin lestari dan berkelanjutan.
Danau Kembar adalah cermin dari banyak kawasan wisata alam lain di Indonesia yang sedang berjuang menjaga nafasnya di tengah euforia pembangunan. Kita butuh lebih banyak pendekatan seperti yang ditulis Syaiful—berbasis data, inklusif, dan berani mengambil langkah korektif sebelum terlambat.







