Kabaminang.com – Riyadh. Serangan proyektil menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/2026), menewaskan sedikitnya 12 orang dan menyebabkan lebih dari 300 orang terluka, menurut laporan otoritas penerbangan Arab Saudi yang dikutip sejumlah media internasional.
Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran terhadap keselamatan penumpang dan warga yang berada di sekitar bandara. Rekaman yang diberitakan media internasional memperlihatkan sejumlah jemaah umrah berlarian menjauhi area terminal ketika ledakan terjadi.
Serangan itu menjadi perhatian internasional karena bandara merupakan salah satu fasilitas penting bagi perjalanan udara di Arab Saudi. Operasional Bandara King Khalid sempat dihentikan untuk pemeriksaan keselamatan dan penilaian kerusakan.
Serangan Kembali Terjadi Sehari Kemudian
Situasi kembali memanas pada Minggu (11/10/2026). Koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan adanya proyektil yang menyasar Terminal 4 bandara Riyadh dan memicu kebakaran. Otoritas penerbangan menyatakan sejumlah orang terluka, sementara pemeriksaan kerusakan masih dilakukan.
Kelompok Houthi di Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu. Kelompok tersebut juga mengeluarkan peringatan kepada maskapai penerbangan dan pelancong agar menghindari bandara-bandara di Arab Saudi.
Rangkaian serangan tersebut berdampak pada aktivitas penerbangan dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan penumpang di kawasan itu.
KBRI Riyadh: Belum Ada Laporan WNI Menjadi Korban
Di tengah situasi tersebut, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh menyampaikan bahwa hingga pernyataan pada Minggu (11/10/2026) diterbitkan, belum ada laporan warga negara Indonesia yang meninggal dunia atau terluka akibat serangan pada Sabtu.
Meski demikian, pihak KBRI menyebut informasi mengenai kemungkinan WNI yang termasuk dalam korban luka masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.
KBRI mengimbau warga Indonesia di Arab Saudi untuk meningkatkan kewaspadaan, menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke sekitar bandara terdampak, serta memeriksa status penerbangan langsung kepada maskapai masing-masing.
Status Jemaah Indonesia Perlu Dipastikan
Hingga informasi yang tersedia pada Minggu, belum ada konfirmasi bahwa jemaah haji Indonesia menjadi korban dalam serangan tersebut.
Rekaman jemaah yang berada di terminal ketika ledakan terjadi diberitakan sebagai jemaah umrah. Karena itu, identitas dan status perjalanan setiap orang perlu dipastikan sebelum dikaitkan dengan rombongan jemaah haji Indonesia.
Masyarakat yang memiliki keluarga atau kerabat di Arab Saudi diimbau mengikuti informasi dari KBRI Riyadh, otoritas setempat, serta Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia.
Sumber: ANTARA News, Reuters, dan Associated Press (AP).
“KBM”










