Kaba Minang KABAMINANG.com Terdepan Dalam Mengabarkan
DPRD DHARMASRAYASUMBAR

Senja Mencekam di Arosuka, Hendro Berlari Menembus Kepungan Galodo Demi Menyelamatkan Nyawa

×

Senja Mencekam di Arosuka, Hendro Berlari Menembus Kepungan Galodo Demi Menyelamatkan Nyawa

Sebarkan artikel ini

Kabaminang.com -Arosuka, 4 Oktober 2026. Senja itu seharusnya menjadi waktu biasa bagi Hendro yang tengah menjalankan tugas jaga malam di lingkungan Kantor DPRD Kabupaten Solok. Namun, suasana tenang berubah menjadi kepanikan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Di hadapan Ketua DPRD Kabupaten Solok, Ivoni Munir, Minggu (4/10/2026), Hendro kembali mengisahkan detik-detik mencekam ketika dirinya harus berhadapan langsung dengan kepungan banjir bandang atau galodo yang menerjang kawasan Arosuka.

Dengan raut wajah yang masih menyimpan trauma mendalam, Hendro mencoba mengingat kembali peristiwa yang terjadi pada Senin malam, 21 September 2026 itu.

Saat itu, seorang rekannya bernama Ari datang ke kantor DPRD dengan maksud menjemput mobil Bus Hiace. Tidak ada tanda-tanda bahwa beberapa menit kemudian suasana akan berubah menjadi kepanikan.

Hendro kemudian mengajak Ari untuk duduk sejenak sambil merokok.

“Kita merokok dulu,” kenang Hendro.

Keduanya duduk dan berbincang seperti biasa. Namun, hanya berselang beberapa menit, tiba-tiba terdengar suara dan getaran hebat.

Gedung kantor seperti bergoyang.

Dalam kepanikan, Hendro sempat mengira telah terjadi gempa bumi.

Namun ketika keluar dari gedung, pandangannya seketika berubah. Di hadapannya bukan gempa yang datang, melainkan galodo yang membawa batu-batu besar, batang pohon dan derasnya air yang mulai mengepung kawasan kantor DPRD Kabupaten Solok.

Air bahkan telah mencapai setinggi pinggang orang dewasa.

Dalam hitungan detik, naluri untuk menyelamatkan nyawa mengambil alih segalanya.

Tanpa berpikir panjang, Hendro langsung berlari.

Tidak ada waktu untuk menyelamatkan barang-barang. Tidak ada waktu untuk mencari telepon genggam. Yang ada dalam pikirannya hanya satu:

bagaimana dirinya bisa keluar dari kepungan air dan menyelamatkan nyawa.

Hendro berlari sekencang-kencangnya menuju arah Tugu Ayam.

Di tengah kepanikan dan derasnya air, telepon genggam miliknya terlepas dan akhirnya hilang. Namun kehilangan sebuah handphone tidak sebanding dengan apa yang dipertaruhkan malam itu.

Nyawa.

Kini, beberapa hari setelah peristiwa mengerikan tersebut, Hendro memang telah selamat. Tetapi ketika kembali menceritakan pengalaman itu kepada Ivoni Munir, bekas ketakutan tersebut masih begitu jelas terlihat.

Tatapannya menyimpan trauma.
Suaranya seolah kembali membawa dirinya pada senja mencekam ketika suara batu, pohon dan derasnya air bercampur menjadi satu.

Mendengar kisah tersebut, Ivoni Munir terlihat serius menyimak. Sebagai Ketua DPRD Kabupaten Solok yang sejak awal berada dalam pusaran penanganan bencana galodo Arosuka, Ivoni mengaku tidak bisa membayangkan bagaimana Hendro menghadapi situasi tersebut seorang diri.

“Alhamdulillah, yang paling penting Hendro selamat,” demikian semangat kepedulian yang disampaikan Ivoni.

Bagi Ivoni, kehilangan sebuah handphone bukanlah persoalan utama. Yang jauh lebih penting adalah keselamatan jiwa.

Namun, bentuk kepedulian ternyata tidak berhenti sampai di sana.

Handphone Hendro yang hilang saat berusaha menyelamatkan diri kini telah digantikan dengan sebuah perangkat Android baru. Bantuan tersebut diberikan oleh sejumlah donatur yang memilih tidak disebutkan namanya.

Ivoni hanya menyebutnya sebagai bagian dari kepedulian bersama.

“Yang jelas, ini bentuk kepedulian kita,” menjadi gambaran bahwa di tengah musibah, masih ada tangan-tangan yang tergerak membantu tanpa ingin dikenal.

Kisah Hendro menjadi salah satu potret kecil dari dahsyatnya galodo yang menghantam kawasan Arosuka.

Sebuah kisah tentang beberapa menit yang mengubah suasana biasa menjadi perjuangan mempertahankan hidup.

Dari duduk santai sambil merokok, mendengar kantor bergoyang seperti gempa, kemudian melihat batu dan pohon diterjang air, hingga akhirnya harus berlari menyelamatkan diri menuju Tugu Ayam.

Handphone boleh hilang. Harta benda boleh rusak. Tetapi keselamatan manusia adalah yang utama.

Dan hari ini, Hendro masih berdiri, masih bisa bercerita.

Sebuah kisah yang menjadi saksi bahwa di balik dahsyatnya galodo Arosuka, ada manusia-manusia yang pernah berlari dengan satu harapan:

selamat sampai tujuan dan kembali bertemu keluarga.
Alhamdulillah, Hendro selamat.

“MB”